Suatu petang ada seorang kawan jauh yang datang ke rumah saya. Wajahnya begitu masai dan kelihatan letih. Tanpa dia berceritapun saya dapat membaca gurat penderitaan di wajahnya. Umurnya baru tiga puluh dua, tetapi tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Dulu teman kuliah satu angkatan, akan tetapi entah karena sebab apa suatu hari dia mengatakan pada saya kalau tidak akan meneruskan kuliahnya. Sejak saat itulah saya hilang kabar dengannya.” Tuhan kadang tidak adil ya Din!” dia memulai ceritanya. Setelah drop out kuliah dia memutuskan untuk mencari pekerjaan. Karena tidak banyak pilihan pekerjaan maka diapun mencoba peruntungan menjadi sales keliling. Tetapi tidak lama kemudian dia keluar dari profesi itu, bosan katanya. Pernah juga mencoba menjadi pedagang bakso keliling, tapi selalu rugi karena tidak punya pengalaman yang cukup di bisnis itu. Bosan hidup dan gagal di kota Semarang, dia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Kebumen.
Saya tidak habis pikir, bagaimana dia bisa menjelaskan kepada orang tua, saudara, dan para tetangga tentang kegagalannya menjadi seorang sarjana. Bagi saya gagal dalam menempuh studi sama saja dengan menyia-nyiakan kepercayaan dan mengkhinanati orang tua. Malu rasanya. Tetapi mungkin tidak bagi kawanku yang satu ini. Menurutnya hidup bisa saja sebuah permainan yang tidak perlu dipikirkan awal dan akhirnya. Kalaupun kalah dan gagal dalam hidup toh tetap saja bisa senang.




