Jonroni-kawan akrab saya bercerita tentang seringnya ia harus berkorban kerelaan. “Maksud lo Jon?” saya mulai tertarik dengan ceritanya kerna hal yang sama juga sering menimpa saya.
Setelah sekian lama mengalami banyak kejadian, saya berksimpulan bahwa orang lain sering bersikap tidak adil terhadap saya. Ketika mereka tidak ada-dengan alasan apapun-saya bisa, sekali lagi bisa memahami ketiadaan mereka. Kerna saya sadar, orang perlu wilayah pribadi-baik guna urusan yang tidak penting sampai yang sangat penting.
Tetapi giliran saya tidak ada, hampir semua orang menganggap saya tidak pantas melakukan hal itu. Kekanak-kanakan. Disangka tak loyal. Dan seribu caci makian menghantam ketiadaan saya. Padahal ketiadaan saya pun memiliki alasan yang masuk akal dan bisa dipertanggungjawabkan. Hanya saja saya tidak mau mengemis-ngemis agar orang bisa memahami alasan itu. Mungkin itulah kelemahan saya.
Lepas dari kelemahan itu, sungguh, saya marah. Berkecamuk seribu dendam di dalam dada. Mengapa orang-orang tidak berkaca pada dirinya. Bahwa apa yang dia lakukan dengan ketiadaannya bisa merepotkan dan memberi tambahan pekerjaan bagi orang lain?” sepertinya Jonroni tercekat dan menghentikan ceritanya.
Sungguh menarik benar cerita kawan saya ini. “Sabar Jon. Menurut cerita temen saya satunya, orang ternyata punya katuranggan masing-masing. Artinya bisa saja sampean tergolong orang yang memang bisa disalah-salahkan, dipojokkan, lebih extrem lagi dianiaya. Hahahaha” saya mencoba memaparkan sebuah teori.
“Lhadalah sampean malah ngece saya” sergahnya.
“Lho ini fakta hidup Jon! Mereka akan mengulang perlakuan penyiksaan itu, karena sampeyan diam ketika diperlakukan demikian. Coba sampean lawan. Jangan diam saja. Sampean juga kan punya batas kesabaran harusnya. Saya yakin mereka pasti juga sering melakukan “reses” kaya sampean. Bahkan intensitasnya bisa lebih sering, dan dengan alasan yang tidak jelas pula. Tapi karena mereka punya ketahanan diri yang bagus. So…Aman. Sudahlah terima saja nasib sampean. Badai pasti berlalu.Hidup akan kembali normal” saya mencoba memberi nasehat.
“Normal gundulmu” kawan saya pergi dengan seribu dendam yang masih berkecamuk di dadanya. Ah ternyata butuh kerelaan memahami diri dan orang lain.