Apakah kemiskinan membuat orang lupa mencatat peristiwa-peristiwa manis masa kecil di otaknya?
Muslihudin, nama yang singkat, sederhana, dan hanya satu kata. Konon itu adalah nama terindah yang diketemukan Bapak kala aku lahir. Aku percaya saja, karena teman-teman sepermainan juga punya nama yang singkat-singkat. Mahmud, Haryadi, Sangidun, Musyidin, Nurcholik, Tarmuji, Suratin,dan banyak nama-nama lain yang sejenis. Hanya ada satu nama teman sepermainanku yang terdiri dari dua suku kata ; Anton Riyadi. Dan dapat dimaklumi, karena orangtua temanku yang satu ini berbeda dari orangtua anak-anak kampung kebanyakan yang memang terlahir menjadi petani. Bapaknya pegawai Bank Kredit Kecamatan, ibunya punya kios kelontong di pasar, dan eyangnya orang paling dihormati di kampung kami. Haji Ngadimin namanya, kaya, pembawaannya kharismatik, dan pekerja keras. Sawahnya ladangnya banyak, kebun buahnya apalagi. Jika musim rambutan datang, sepertinya tidak ada orang lain yang lebih bahagia dari dirinya, karena hasil kebun buahnya melimpah ruah. Di kota kecamatan, ace atau rambutan Haji Ngadimin sangat terkenal. Bahkan sampai ke kota kabupaten. Dan Anton Riyadi sebagai cucunya tidak hanya namanya saja yang berbeda dari kami., nasibnya pun jelas berbeda pula. Namun dikemudian hari keluarga besar ini “menghilang” karena konflik antarakeluarga soal pembagian waris. Termasuk Anton, sampai sekarang aku juga tidak tahu keberadaannya.Aku tidak mengenyam pendidikan usia dini, belum populer waktu itu. Sebenarnnya ada TK di kampung kami, tetapi mungkin orang tuaku tidak begitu menganggap penting, sehingga aku langsung dimasukkan ke SD. Ada dua SD Negeri di kampungku; SD Negeri Karangrejo I dan SD Negeri Karangrejo II. Aku tidak tahu mengapa Si Mbok memasukkan aku ke SD yang terakhir. Padahal SD yang pertama lebih bagus-kata teman-temanku yang lain.
Seingatku, tidak ada yang istimewa ketika di bangku SD, kecuali perilaku-perilaku lucu teman-teman sekelasku. Si Bowo yang suka merebut makanan dan berkelahi, Si Basuki yang suka sekali dengan lagu-lagunya Rhoma Irama, atau Si Sangid yang suka maaf beol di kelas karena takut ketika ketahuan tidak mengerjakan PR. Hanya itu saja yang kuingat. Dan tiba-tiba saja aku sudah lulus SD dan sudah duduk di bangku SMP. Hanya ada satu SMP Negeri di kota kecamatan, yaitu SMP Negeri Petanahan. Sebenarnya masih ada beberapa sekolah swasta, dan tetapi aku memang berkeinginan kuat untuk masuk ke sekolah negeri. Orang-orang di kampungku beranggapan kalau tidak diterima di sekolah negeri berarti IQnya pas-pasan alias anak kurang pinter.
Jarak sekolah ini sekitar 2 km dari rumahku. Untuk mencapainya biasanya naik sepeda angin-kendaraan yang jamak dimiliki oleh orang-orang kampung. Murah, mudah perawatannya, dan tidak memerlukan banyak biaya. Hampir semua orang di kampungku memanfaatkan sepeda angin untuk aktivitas sehari-hari. Hanya beberapa gelintir orang yang memakai sepeda motor. Dan lagi-lagi tidak ada hal yang terekam manis selama tiga tahun di sekolah menengah yang terletak di tengah sawah tersebut. Apakah kemiskinan membuat orang lupa mencatat peristiwa-peristiwa manis masa kecil di otaknya? Mungkin saja. (bersambung)




